Senin, 13 Februari 2012

Dakwah NABI di Makkah dan Madinah


Penulis: Perdi Kastolani, S,Kom.I
BAB I
PENDAHULUAN

  A.    Latar Belakang
Kota Makkah dan Madinah merupakan dua kota yang sangat bersejarah sepanjang lahirnya Islam hingga berjaya dan tersebarnya keseluruh penjuru dunia. Bagaimana tidak, dakwah Rasulullah SAW yang berbenderakan Islam, lahir dan mulai berkembang di dua kota tersebut.
Sejarah dan perjuangan dakwah Nabi SAW dalam menyampaikan risalah dari Allah SWT sejak diutusnya menjadi Rasul di usia 40 tahun di kota Makkah hingga wafatnya di usia 63 tahun di kota Madinah, mengandung banyak hikmah, pelajaran dan contoh bagi setiap umat, lebih-lebih bagi para penerus perjuangan dakwah Nabi SAW, yaitu para ulama dan  pejuang Islam.
Namun pada kenyataannya, masih banyak ditemukan di lapangan sekelompok orang yang mengaku sebagai penerus panji-panji Islam, tapi tidak berasaskan pada dasar-dasar yang telah dicontohkan oleh sebaik-baik panutan. Padahal Allah sendiri menegaskan dalam firman-Nya:
 
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Ketidak tepatan dalam mengonsep strategi dakwah seperti hal di atas disebabkan oleh minimnya pengetahuan dan pemahaman terhadap nilai-nilai dakwah yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Dengan demikian, sebagai penerus tongkat estafet dakwah Rasulullah SAW, sudah seharusnyalah mengerti dan memahami bagaimana konsep dakwah yang sesuai dan diterima di sisi Allah dan Rasul-Nya serta umat manusia secara keseluruhan.
Makalah ini akan membahas secara singkat tentang bagaimana karakteristik dakwah Nabi SAW, baik periode Makkah maupun Madinah dan hal-hal terkait di dalamnya. Sesuai dengan permaslahan tersebut, maka makalah ini pun berjudul “DAKWAH NABI SAW PERIODE MAKKAH DAN MADINAH”.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana dakwah Nabi SAW. di Makkah?
2.      Bagaimana dakwah Nabi SAW. di Madinah?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulis pada makalah ini adalah untuk:
1.       Mengetahui bagaimana dakwah Nabi di kota Makkah.
2.      Mengetahui bagaiman dakwah Nabi di kota Madinah.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Dakwah Nabi di Makkah
1.    Rasulullah SAW dan tujuan pengutusannya
Nabi Muhammad SAW adalah seorang rasul yang diutus oleh Allah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliah menuju kehidupan madani yang terang benderang, memberi kabar gembira bagi yang mengikuti ajarannya dan peringatan bagi yang mengingkarinya.[1]
2.    Kondisi objektif masyarakat Arab saat diutusnya Rasulullah SAW
Kondisi masyarakat Arab sebelum diutusnya Rasulullah berada dipuncak kekacauan, sehingga masa itu sering disebut sebagai masa jahiliah atau masa kebodohan. Kondisi keagamaan, politik, sosial maupun ekonomi sangat kacau dan rusak.[2]
3.    Materi dakwah Rasulullah SAW
Demi menciptakan umat yang berakhlak, Rasulullah memulai aktivitasnya dengan menyemaikan benih tauhid ke dalam hati-hati para sahabatnya. Pernyataan ini didukung oleh ayat-ayat Makiyyah yang merupakan isi dari materi dakwah yang Rasulullah sampaikan.
Adapun materi dakwah Rasulullah periode Makkah, dapat disimpulkan sebagai berikut:
a.    Tauhid;
b.    Iman kepada hari kiamat;
c.    Pembersihan jiwa;
d.   Tawakal.
Selain itu, Rasulullah juga memberikan perhatian terhadap permasalahan sosial, seperti anjuran beliau dalam memerdekakan perbudakan, memberi makan orang yang kelaparan, memperhatikan anak-anak yatim dan orang-orang fakir dan miskin.[3]
4.    Metode dakwah Rasulullah SAW
Dalam perjalanan sejarah, Rasulullah tercatat sebagai manusia yang paling sukses dalam menyebarkan ajarannya. Langkah-langkah gemilang yang diambil oleh Rasulullah membuahkan hasil yang maksimal. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
a.    Dakwah secara rahasia
Dalam tahap ini Rasulullah mulai menyerukan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi kepada keluarganya yang terdekat, khususnya yang telah matang dalam padangan dan pemikirannya. Tahap ini berjalan selama kurang lebih tiga tahun.[4]
Beberapa diantara orang-orang yang pertama kali menerima seruan Rasulullah adalah istrinya Khadijah, kemudian Ali, Abu Bakar, Usman, Abdur Rahman, Zaid, Zubair dan Thalhah.[5]
b.    Dakwah secara terang-terangan
Pada tahapan ini Rasulullah mulai berdakwah secara terang-terangan. Metode yang digunakan Rasulullah pada masa ini diantaranya:[6]
1.    Mengundang Bani Hasyim datang kerumahnya dan memberikan penjelasan kepada mereka tentang keRasulullahannya.
2.    Mengundang seluruh masyarakat Quraisy ke Bukit Shafa dan menjelaskan secara langsung kepada mereka perihal kenabiannya.
3.    Bersikap tegas terhadap ajarannya dan mengecam keyakinan keliru yang tersebar di masyarakat.
c.    Dakwah di luar Makkah
Aktivitas dakwah yang Rasulullah lakukan di masa ini di antaranya adalah:[7]
1.    Menyerukan Islam kepada kabilah-kabilah yang ada di Thaif bersama Zaid bin Haritsah. Perjalanan dakwah ke Thaif  tidak membuahkan hasil dan tidak mendapat respon dari para penduduk;
2.    Bai’at Aqabah I;
3.    Ba’at Aqabah II.
5.    Sarana dakwah Rasulullah SAW
Secara umum sarana dakwah Rasulullah terdiri atas sarana fisik dan nonfisik.[8]
a.    Sarana fisik, diantaranya adalah:
1.    Masjidlharam sebagai simbol kekuatan;
2.    Bukit Shafa sebagai tempat pertemuan umum;
3.    Rumah sebagai tempat pengkaderan para sahabat.
b.    Sarana nonfisik, diantaranya adalah:
1.    Hubungan Rasulullah yang sangat dekat dengan Allah;
2.    Kepribadian luhur dan kejujuran Rasulullah;
3.    Kewaspadaan dan kehati-hatian.
6.    Problematika dakwah Rasulullah SAW
Perjalan dakwah Rasulullah tidaklah selalu mulus. Tidak jarang Rasulullah mendapat perlakuan kasar dari kaumnya. Tahapan yang dilalui Rasulullah dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu:[9]
a.    Perlakuan halus, diantaranya:
1.    Negosiasi kepada Abu Thalib agar Rasulullah menghentikan dakwahnya;
2.    Memberikan tawaran kepada Rasulullah apa saja yang beliau inginkan jika Rasulullah mau menghentikan dakwahnya;
3.    Menawarkan ibadah secara bergantian.
b.    Perlakuan kasar, diantaranya:
1.    Menghina, mendustakan dan menuduh Rasulullah sebagai orang gila;
2.    Melakukan propaganda palsu dengan menyatakan bahwa ajaran Rasulullah hanyalah sekedar dongeng belaka.
c.    Perlakuan sangat kasar, diantaranya:
1.    Penyiksaan terhadap para sahabat;
2.    Melakukan blokade;
3.    Upaya pembunuhan Rasulullah.
B.     Dakwah Nabi di Madinah
1.    Hijrah sebagai metode dakwah
Pada tahun ketiga, datang kepada Rasulullah tujuh puluh dua orang utusan dari Madinah. Mereka mengadakan pertemuan[10] dengan Rasulullah dan membahas tentang keadaan Rasulullah dan para sahabat, serta mengajak agar bisa hijrah ke Madinah.
Para sahabat pun segera berhijrah secara bergelombang, sedang Rasulullah masih menanti perintah dari Allah SWT. Setelah perintah turun, Rasulullah pun berhijrah bersama sahabat Abu Bakar.
Gerakan hijrah menuangkan keberhasilan yang besar bagi kaum muslimin. Di Madinah mereka mulai menerapkan sistem kehidupan baru berasaskan Islam, baik dalam bidang politik, sosial dan lain sebagainya.[11]
2.    Negara Madinah Sebagai sarana baru Dakwah Nabi SAW
Perbedaan kondisi menyebabkan perubahan-perubahan terhadap dakwah Rasulullah. Ketika pemerintahan Madinah terbentuk, Rasulullah mulai mencanangkan tiga program, yaitu:[12]
a.    Membangun masjid
b.    Manjalin persatuan antar sesama muslim
c.    Menata pola hubungan antara kaum muslimin dan nonmuslim[13]
3.    Perintah jihad
Syariat jihad diturunkan setelah berlangsungnya hijrah. Kaum muslimin diizinkan untuk melakukan perang guna mengamankan dan memelihara dakwah dari bahaya dan ancaman, sehingga tidak menimbulkan rasa takut dan kawatir bagi orang yang ingin memeluk Islam.[14]
Setelah syariat jihad diturunkan oleh Allah, peperangan terjadi berturut-turut dianataranya perang Badar, Uhud, Khandak dan seterusnya hingga wilayah Islam meluas sampai meliputi seluruh Jazirah Arab, Irak selatan dan Palestina.[15]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar